Silaturahmi Kebangsaan di Pondok Hidayaturrahman: Merajut Persatuan Lintas Agama dan Etnis

KETAPANGTERKINI-Minggu, 10 Agustus 2025 Suasana penuh kehangatan dan rasa persaudaraan menyelimuti Pondok Hidayaturrahman Kampus Desa Tanjungpura, tempat berlangsungnya Silaturahmi Kebangsaan bersama Bupati Ketapang. Acara ini diinisiasi dan diawali oleh Rois Syuriah PCNU Kabupaten Ketapang, KH. Jemaie Makmur, sebagai bentuk komitmen memupuk persatuan bangsa dan merajut kesatuan NKRI.

Hadir dalam kesempatan ini para pemuka agama dan tokoh budaya lintas etnis, di antaranya Ketua MUI Kabupaten Ketapang Drs. KH. M. Faisol Machsum, Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi, Ketua Umum Persatuan Gereja Kristen Ketapang (PGKK) Pdt. Yance Abidano, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Ketapang Pandita Sudarso, serta tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dalam sambutan, saya menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif mulia ini. “Saling kenal di antara kita itu penting. Kadang sulit untuk bertemu, namun hari ini kita dipertemukan di rumah singgah ini dengan niat silaturahmi. Sekaligus saya ingin mengucapkan terima kasih karena Pilkada telah berlangsung aman, damai, dan tanpa gesekan.”

Saya juga memohon doa dan dukungan dari seluruh alim ulama, para pemuka agama, dan masyarakat untuk bergotong royong membangun Ketapang. “Saya membuka diri untuk mendengar langsung apa yang menjadi harapan dari para pemuka agama dan tokoh masyarakat.”

Pada pertemuan ini, saya lebih banyak mendengarkan masukan. Pemuka agama pertama yang menyampaikan pandangan adalah Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi. Beliau menekankan pentingnya kegiatan ngopi yang dimaknai sebagai “ngobrol pintar”. Kegiatan ini rutin digelar setiap bulan oleh Keuskupan, dan pada 13 September mendatang akan kembali dilaksanakan. Beliau pun mengundang untuk hadir dalam ngopi tersebut, yang akan membahas berbagai harapan masyarakat terhadap pembangunan di Kabupaten Ketapang, mulai dari sektor pendidikan hingga perbaikan infrastruktur jalan.

Selain ngopi, Uskup juga mengajak pemerintah daerah, khususnya Bupati, untuk lebih sering ngeteh — yang dimaknainya sebagai “ngerumpi tekhnis”. Kegiatan ini, menurut beliau, penting untuk membicarakan secara mendalam pelaksanaan program pembangunan pemerintah, termasuk infrastruktur dan sektor strategis lainnya.

Sementara itu, masukan dan harapan dari Pendeta Yance Abidano menyoroti persoalan kelangkaan gas LPG. Menurutnya, meskipun tabung LPG bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat miskin, di lapangan tidak semua yang menggunakannya tergolong masyarakat miskin. Akibatnya, ketersediaan menjadi langka dan harga melonjak tinggi, bahkan di daerah pedalaman bisa mencapai Rp40.000 per tabung.

Pendeta Yance juga menyampaikan dukungan penuh kepada Bupati Ketapang untuk percepatan pembangunan infrastruktur jalan. Ia mencontohkan jalur strategis yang perlu diperhatikan, mulai dari Pelang–Puluk Batu Tajam, hingga jalan penghubung Tanjung Pura–Tanah Merah–Sumber Periangan dan seterusnya sampai ke Penjawaan.

Tak hanya itu, Pdt. Yance juga mengingatkan akan ancaman bahaya narkoba yang kini sudah sangat mengkhawatirkan, baik di pedalaman maupun di kota Ketapang. Ia menegaskan, penyalahgunaan narkoba sudah mulai menyasar berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah, sehingga semua pihak—orang tua, pendidik, tokoh agama, dan pemerintah—perlu bersatu melindungi generasi muda dari jerat barang haram tersebut.

Adapun masukan dari Pandita Sudarso menegaskan dukungan terhadap kepemimpinan saya sebagai Bupati Ketapang yang mengusung visi pembangunan berkeadilan untuk Ketapang maju dan mandiri. Beliau juga memberikan perhatian khusus pada bidang pendidikan, khususnya kebutuhan penambahan guru agama Buddha. Saat ini, di Kabupaten Ketapang baru terdapat satu orang guru agama Buddha yang PNS, sehingga diharapkan pemerintah daerah dapat memperhatikan dan memperjuangkan hal ini demi pemerataan layanan pendidikan agama.

Momentum ini saya pandang sebagai awal yang baik. Ke depan, pertemuan akan digilir: dimulai dari rumah singgah, dilanjutkan di pendopo, lalu di kediaman pak Uskup, serta tokoh agama lainnya dari Hindu maupun Buddha.

Saya menegaskan pentingnya hubungan baik antara pemerintah daerah dan para pemuka agama. “Hal-hal baik dari pendahulu akan saya teruskan, dan yang kurang akan kita perbaiki bersama. Budaya, jati diri, identitas, dan harga diri kita sebagai bangsa akan kita jaga. Budaya tidaklah bertentangan dengan agama—justru keduanya dapat menyatu, saling menguatkan, dan menjadi landasan persatuan kita.”

Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ketapang, Drs. KH. M. Faisol Machsum, diikuti dengan pertukaran cenderamata, dan ditutup dengan makan malam bersama. Malam itu bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati—karena perbedaan yang dirajut dalam silaturahmi akan selalu melahirkan kekuatan untuk membangun bersama.(Om)

 

—

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *