KETAPANTEEKINI-Kampung Tanjungpura, Minggu 10 Agustus 2025 — Suasana semarak dan penuh semangat membaur di Lapangan Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, saat saya resmi membuka Festival Pencak Silat Tradisional Tahun 2025. Acara ini saya pimpin langsung sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kalimantan Barat, dengan gelar kehormatan Pendekar Wira Utama.
Festival tingkat Kabupaten Ketapang ini telah menjadi agenda tahunan sejak saya gagas tiga tahun lalu. Tahun demi tahun, penyelenggaraannya semakin meriah, menjadi bukti antusiasme masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan seni bela diri tradisional yang menjadi kebanggaan bangsa.
“Semoga melalui festival ini, kita semakin bersemangat dan termotivasi untuk menjaga tradisi leluhur serta budaya yang diwariskan, khususnya pencak silat, gendang tar hadrah, dan tarian tradisional,” saya sampaikan dalam sambutan.
Bagi saya, pencak silat tradisional bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi bagian dari jati diri dan identitas bangsa. “Silat melekat dengan budaya kita. Ia adalah warisan, kehormatan, dan harga diri yang harus kita rawat. Adat, budaya, dan tradisi adalah jati diri dan harga diri kita.”
Tahun ini, festival didedikasikan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-80 Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Ketua DPRD Kabupaten Ketapang, Dandim 1203, Sekretaris Daerah, para Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, pimpinan OPD, anggota DPRD Dapil 1 Rion Sardi, tokoh paguyuban etnis, Camat Muara Pawan, unsur Forkopimcam, Ketua IPSI Kabupaten Ketapang, barisan pendekar, tokoh agama dan masyarakat, sesepuh perguruan silat, serta para kepala desa.
Dalam kesempatan itu, saya menawarkan kepada para kepala desa yang hadir untuk mengusulkan diri sebagai tuan rumah Festival Pencak Silat Tradisional 2026, dengan waktu pengajuan selama tiga hari. Saya juga menekankan bahwa pencak silat tradisional memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. “Silat tradisional menjangkau hingga ke pelosok kampung dan hadir dalam berbagai kegiatan adat, termasuk pernikahan. Pencak silat hidup, tumbuh, dan berkembang seiring napas kehidupan masyarakat.”
Sebagai Ketua Umum IPSI Kalbar, saya menyebut bahwa menjaga dan membangkitkan pencak silat adalah amanah dari para pendekar. “Pencak silat adalah satu-satunya tradisi bela diri asli bangsa Indonesia. Mari kita bumikan pencak silat hingga mampu berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional.”
Selain festival ini, saya juga merencanakan Jambore Pencak Silat se-Kabupaten Ketapang pada Oktober mendatang untuk memeriahkan HUT TNI ke-80. Mengakhiri sambutan, saya berpesan, “Selamat berkompetisi kepada para pendekar. Junjung tinggi sportivitas, persaudaraan, dan kehormatan, serta jadikan ini ajang silaturahmi.”
Di sela acara, saya turut menyinggung kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang baru saja ditutup di Kecamatan Sei Laur, dengan penyerahan tuan rumah berikutnya kepada Kecamatan Muara Pawan. Menanggapi permohonan Putra Penyangga Tanjungpura terkait pelaksanaan MTQ di Desa Tanjungpura atau Desa Mayak, saya menegaskan bahwa LPTQ akan melakukan kajian sebelum diputuskan. “Hasil keputusan LPTQ tentu akan menjadi keputusan saya.(Om)
–






